Desain rumah Kolonial , Jasa Arsitek di Bekasi

Apr - 26
2017

Desain rumah Kolonial , Jasa Arsitek di Bekasi

Desain ini populer pada abad ke 19 mada masa penjajahan Belanda, pada era arsitektur Neo Klasik , dengan ciri khas bangunan megah, dengan pondasi kuat, dan struktur kuat, seperti rumah rumah peninggalan Belanda yang beberapa masih ada di Kota Bekasi pada saat ini.

 

Arsitektur Kolonial

Bangunan dengan gaya arsitektur Kolonial adalah bagunan arsitektur yang berkembang selama masa penjajahan Negara Belanda di tanah air, atau di kenal dengan masa kolonialisasi, masa kolonial Belanda di tanah air. Orang orang Belanda yang datang ke Indonesia pada masa penjajahan menginginkan lingkungan di tanah kolonial , tanah pendudukan memiliki lingkungan bangunan yang sama dengan yang berada di Negara nya (Belanda) . Masuk nya unsur unsur kebudayaan Eropa dalam komposisi kependudukan di Indonesia menambah kekayaan ragam arsitektu yang ada di Indonesia. Seiring perkembangan kekuasaan dan peran Eropa d negara kolonial, kamp-kamp Eropa seperti Portugis, Inggris khususnya Belanda semakin dominan dan permanen hingga akhirnya berekpansi dan mendatangkan tipelogi baru. Semnagan  Renaissance  di Eropa yang dipelopori oleh Inggris dan globalisasi pada abad ke 14 – khususnya pada abad ke 18 dan 19, memperkenalkan bangunan banguna modern pada masanya, seperti gedung gedung administrasi Kolonial, rumah sakit, fasilitas militer, dan pemukiman. Bangunan -bangunan inilah yang dikenal dengan nama Bangunan Kolonial. Dalam kontek mah dengan fasad kolonial, adalah gedung tempat tinggal yang di pengaruhi unsur unsur arsitektur Eropa, namun dibuat dengan prinsip kontruksi modern.

Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia

Dalam sejarah tercatat, Bangsa Eropa datang pertama kali ke Indonesia atau (dahulu Indonesia dikenal sebagai Nusantara) adalah Bangsa Portugis dengan Misi 3 D nya yaitu ; God, Glory dan Gold, yaitu misi ketuhanan dari Gereja, Misi Kemenangan dari Raja, Misi Kekayaan atau Gold, diikuti oleh Imprealisme Bangsa Inggris, dan Kolonial Belanda. Pada mulanya bangsa Belanda datang dengan misi dagang. Sehingga mereka membangun pemukiman pemukiman di beberapa Kota Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan pantai dan Pelabuhan pelabuhan . Pada mulanya rumah rumah untuk tempat tinggal atau pemukiman dinding dan lantai terbuat dari bahan material kayu yg sudah berbentuk papan papan, dengan atap ijuk. Seiring dengan banyak nya konflik yang terjadi antara penduduk lokal dengan bangsa pendatang ini, mulai lah dibangun Bngunan bangunan berupa Benteng , dan dinding benteng biasanya di buat dari batu bata , dengan ukuran dinding yang sangat tebal. Di dalam bneteng tersebut mulai lah Bangsa Eropa ini membangun pemukiman dengan banyak rumah-rumah yang terbuat dari batu bata, dengan para ahli arsitek dan tukang tukang yang di datangkan sendiri dari Negaranya. Bangsa Eropa mualai mendirikan rumah-rumah, rumah sakit, gedung administrasi, dengan arsitektur sama persisis dengan bangunan-bangunan yang ada di Eropa. Lmabat laun bangunan banguna eropa ini disesuaikan dengan keadaan iklim di Indonesia, dengan kelembaban tinggi, ciurah hujam tinggi, dan berilklim tropis detropis yang panas.

Periode Arsitektur Kolonial

Abad 16 sampai tahun 1800an.

Pada masa Nusantara bernama Nederland Indische (Hindia Belanda) dibawah kekuasaan Kongsi dagang Belanda VOC , bangunan Arsitektur Belanda cenderung meninggalkan orientasinya pada bangunan tradisional Belanda. Dimana Bangunan tradisional di perkotaan Negara Bekanda pada masa periode ini masih bergaya tradisiona Belanda yaitu dengan bentuk bangunan cenderung panjang dan menyempit, atap curam dan dinding di depan bertingkat. Bangunan tradisional Belanda aslinya tidak mempunyai tidak mempunyai suatu orientasi bentuk yang jelas, dan tidak beradaptasi pada iklim setempat, seperti pada bangunan Reine de Klrek sebelum ada Gubenur Jenderal Belanda di Batavia

Tahun 1800 an sampai tahun 1902

Pemerintah Kerajaan Belanda mulai mengambil alih Hindia Belanda dari VOC. Pemerintah Kerajaan Belanda sepenuhnya menguasai Nusantara, untuk memperkuat status kedudukan Belanda di Nusantara, sebagai Negara kolonialis, dengan membangun gedung gedung berkesan grandeur atau megah  Bangunan gedung dengan gaya megah ini dipinjam dari gaya arsitektur neo-klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur tradsional Belanda pada masa itu.

 Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik dikenal dengan Indische Architecture, karakter arsitektur ini dapat dilihat seperti : Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan) dan didalamnya terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lainnya. Pilar menjulang ke atas (gaya Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi depan dan belakang dan menggunakan atap perisai.

 

Tahun 1902-1920-an

Antara tahun 1902 kaum liberal di negeri Belanda mendesak apa yang dinamakan politik etis untuk diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu, pemukiman orang Belanda tumbuh dengan cepat. Dengan adanya suasana tersebut, maka “indische architectuur” menjadi terdesak dan hilang. Sebagai gantinya, muncul standar arsitektur yang berorientasi ke Belanda. Pada 20 tahun pertama inilah terlihat gaya arsitektur modern yang berorientasi ke negeri Belanda.

Akibat kehidupan di Jawa yang berbeda dengan cara hidup masyarakat Belanda di negeri Belanda maka di Hindia Belanda (Indonesia) kemudian terbentuk gaya arsitektur tersendiri. Gaya tersebut sebenarnya dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW. Daendels yang datang ke Hindia Belanda (1808-1811). Daendels adalah seorang mantan jenderal angkatan darat Napoleon, sehingga gaya arsitektur yang didirikan Daendels memiliki ciri khas gaya Perancis, terlepas dari kebudayaan induknya, yakni Belanda.

Pada tahun 1902 sampai tahun 1920-an, secara umum, ciri dan karakter arsitektur kolonial di Indonesia pada tahun 1900-1920-an yaitu menggunakan Gevel (gable) pada tampak depan bangunan. Bentuk gable sangat bervariasi seperti curvilinear gable, stepped gable, gambrel gable, pediment (dengan entablure). Serta penggunaan Tower pada bangunan Pengunaan tower pada mulanya digunakan pada bangunan gereja kemudian diambil alih oleh bangunan umum dan menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada abad ke 20.

Bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang bulat, segiempat dan ada yang dikombinasikan dengan gevel depan. Serta penggunaaan Dormer pada bangunan. Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis basah seperti pemilihan bentuk ventilasi yang lebar dan tinggi, sebagai antisipasi dari hujan dan sinar matahari.

Gaya arsitektur Hindia Belanda abad ke-19 yang dipopulerkan Daendels tersebut kemudian dikenal dengan sebutan The Empire Style. Gaya ini oleh Handinoto juga dapat disebut sebagai The Dutch Colonial. Gaya arsitektur The Empire Style adalah suatu gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis, bukan Belanda) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda (Indonesia) yang bergaya kolonial, yang disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan tersedianya material pada waktu itu (Akihary dalam Handinoto, 1996: 132).

Ciri-cirinya antara lain: denah yang simetris, satu lantai dan ditutup dengan atap perisai. Karakteristik lain dari gaya ini diantaranya: terbuka, terdapat pilar di serambi depan dan belakang, terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lain. Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan belakang. Serambi belakang seringkali digunakan sebagai ruang makan dan pada bagian belakangnya dihubungkan dengan daerah servis (Handinoto, 1996: 132-133).

Tahun 1920 sampai tahun 1940-an

Pada tahun ini muncul gerakan pembaruan dalam arsitektur, baik nasional maupun internasional di Belanda yang kemudian memengaruhi arsitektur kolonial di Indonesia. Hanya saja arsitektur baru tersebut kadang-kadang diikuti secara langsung, tetapi kadang-kadang juga muncul gaya yang disebut sebagai ekletisisme (gaya campuran). Pada masa tersebut muncul arsitek Belanda yang memandang perlu untuk memberi ciri khas pada arsitektur Hindia Belanda. Mereka ini menggunakan kebudayaan arsitektur tradisional Indonesia sebagai sumber pengembangannya.

Perkembangan Arsitektur Antara Tahun 1870-1900

Akibat kehidupan di Jawa yang berbeda dengan cara hidup masyarakat Belanda di negeri Belanda maka di Hindia Belanda (Indonesia) kemudian terbentuk gaya arsitektur tersendiri. Gaya tersebut sebenarnya dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW. Daendels yang datang ke Hindia Belanda (1808-1811). Daendels adalah seorang mantan jenderal angkatan darat Napoleon, sehingga gaya arsitektur yang didirikan Daendels memiliki ciri khas gaya Perancis, terlepas dari kebudayaan induknya, yakni Belanda.

Gaya arsitektur Hindia Belanda abad ke-19 yang dipopulerkan Daendels tersebut kemudian dikenal dengan sebutan The Empire Style. Gaya ini oleh Handinoto juga dapat disebut sebagai The Dutch Colonial. Gaya arsitektur The Empire Style adalah suatu gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis, bukan Belanda) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda (Indonesia) yang bergaya kolonial, yang disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan tersedianya material pada waktu itu (Akihary dalam Handinoto, 1996: 132). Ciri-cirinya antara lain: denah yang simetris, satu lantai dan ditutup dengan atap perisai. Karakteristik lain dari gaya ini diantaranya: terbuka, terdapat pilar di serambi depan dan belakang, terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lain. Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan belakang. Serambi belakang seringkali digunakan sebagai ruang makan dan pada bagian belakangnya dihubungkan dengan daerah servis (Handinoto, 1996: 132-133).

Perkembangan Arsitektur Sesudah Tahun 1900

Handinoto (1996: 163) menyebutkan bahwa, bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900 merupakan bentuk yang spesifik. Bentuk tersebut merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda pada waktu yang bersamaan dengan penyesuaian iklim tropis basah Indonesia. Ada juga beberapa bangunan arsitektur kolonial Belanda yang mengambil elemen-elemen tradisional setempat yang kemudian diterapkan ke dalam bentuk arsitekturnya. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia tersebut adalah suatu bentuk khas yang berlainan dengan arsitektur modern yang ada di Belanda sendiri.

Handinoto (1996: 151-163) juga menguraikan bahwa, kebangkitan arsitektur Belanda sebenarnya dimulai dari seorang arsitek Neo-Gothik, PJH. Cuypers (1827-1921) yang kemudian disusul oleh para arsitek dari aliran Niuwe Kunst (Art Nouveau gaya Belanda) HP. Berlage (185-1934) dan rekan-rekannya seperti Willem Kromhout (1864-1940), KPC. De Bazel (1869-1928), JLM. Lauweriks (1864-1932), dan Edward Cuypers (1859-1927). Gerakan Nieuw Kunst yang dirintis oleh Berlage di Belanda ini kemudian melahirkan dua aliran arsitektur modern yaitu The Amsterdam School serta aliran De Stijl.

Sejarah Jabotabek

Sejak masa Kekuasaan VOC ( 1602 – 1799 ) hingga pemerintahan Raffles dan Johanes van Den Bosch, Kekuasaan pemerintahan jajahan dilakukan secara sentralis yang dikombinasikan dengan sistem dekonsentrasi. Kondisi ini lambat laun menimbulkan keinginan untuk melaksanakan pembagian tugas kepada alat pemerintahan di daerah lainnya. Pembagian tugas pada Pemerintah Daerah terlaksana pada tanggal 23 Juli 1903, dengan dikeluarkannya Decentralisatie Wet

Namun sistem Desentralisasi tidak berhasil, pada akhirnya belanda membentuk daerah – daerah otonom setingkat kabupaten. salah satunya adalah pembentukan daerah otonom Regentschap Meester Cornelis berdasarkan Staatsblad 1925 No. 383 tertanggal 14 Agustus 1925 dan peraturan itu mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1926. Inilah pembentukan Jabodetabek pertama kali yang dibuat oleh Belanda. Regentschap Meester Cornelis terbagi menjadi empat distrik, yaitu Meester Cornelis ( Batavia ), Kebayoran, Bekasi dan Cikarang. selain itu diluar distrik Meester cornelis ada empat, yaitu Depok, Bogor, Tengerang, dan Tangerang udik ( banten ). Residen Batavia. J. ch de Bergh, kemudian menunjuk Raden Tumenggung Abdurachman sebagai regent ( bupati ) Meester Cornelis dan A.E. Catalani sebagai residen Meester Cornelis. Mulai saat itu secara formal Bekasi dikenal sebagai salah satu ibukota Pemerintahan dari Meester cornelis.

Untuk distrik diluar Meester Cornelis dibentuk oleh belanda bertujuan untuk melindungi Batavia dan distrik di dalam Meester cornelis sendiri yaitu Kebayoran, Bekasi dan Cikarang.

 

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 
Jasa Arsitek Professional dan Hemat Call : 082138863000 - 087738246300Whatsapp