Desain gambar rumah bali modern 2 lantai di Bekasi

Apr - 13
2017

Desain gambar rumah bali modern 2 lantai di Bekasi

Pada Desain rumah Bali modern bisa  berupa arsitektur rumah modern dengan menyisipkan dari sisi sisi keindahan yang di miliki oleh rumah adat Bali, bisa tetap dengan mempertahankan perwarnaan yang khas yang ada pada rumah adat bali, tetap mempertahankan ornamen ornamen , ukir ukiran.

Desain  Rumah Bali adalah kombinasi antara rumah modern dengan ciri khas yang ada pada rumah adat Bali, dengan memadukan gaya etnis klasik dan gaya arsitektur modern, sehingga menghasilkan karya unik , karena sebuah paduan rumah yang mengakomodasi budaya klasik dengan budaya modern.

Rumah Bali modern untuk mengaplikasikan serta menghasilkan karya terbaik bisa di modifikasi dengan mempercantik dekorasi rumah untuk tampilan interior serta eksteriornya. Rumah dengan ciri khas adat Bali pada masa sekarang tidak hanya terdapat di pulau Bali saja, namun sudah tersebar di Kota kota besar di Indonesia, termasuk di Bekasi. Kami jasa arsitek desain rumah untuk wilayah Bekasi telah melayani desain gambar 3 dimensi dan gambar kerja Rumah  bali modern 2 lantai, berikut ini adalah contoh contoh hasil karya Kami :

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Arsitektur Rumah adat Bali

Gaya arsitektur pada rumah bali biasanya terdiri dari ornamen ornamen  yang rumit , serta mempunyai ciri khas etnis Bali. Pada rumah adat bali  banyak dihiasi dengan peralatan, ukiran, dan perwarnaan yang khas. Semua detail tersebut memiliki makna filsofofi tersendiri. Selain untuk memperindah, biasanya tambahan tersebut ditujukan untuk ritual tertentu.

Ada dua tipe rumah di bali jika dilihat dari sisi geografis yaitu rumah adat yang berada di daerah dataran tinggi dan rumah adat di daerah dataran rendah. Rumah yang berada di daerah dataran tinggi pada umumnya berukuran kecil, dan memiliki jumlah lubang pertukaran udara yang lebih sedikit, dan beratap rendah. Ini dimaksudkan untuk menjaga suhu ruangan agar tetap hangat. Selain itu pekarangan rumah juga lebih sempit disebabkan permukaan tanah yang tidak rata. Aktivitas sehari-hari seperti memasak, tidur, hingga ritual keagamaan dilakukan didalam rumah.

Rumah adat bali yang terletak di daerah dataran rendah pada umumny memilki ciri sebaliknya, memiliki banyak ruang terbuka, beratap tinggi, dan berpekarangan luas. Seperti bale daja untuk ruang tidur dan menerima tamu penting, bale dauh untuk ruang tidur dan menerima tamu dari kalangan biasa, bale dangin untuk upacara, dapur untuk memasak, njineng untuk lumbung padi, dan tempat suci untuk pemujaan. Rumah keturunan keluarga raja dan brahmana pekarangannya dibagi menjadi tiga bagian yaitu njaba sisi (pekarangan depan), njaba tengah (pekarangan tengah) dan njero (pekarangan untuk tempat tinggal).

Proses pembangunan diawali dengan pengukuran tanah yang disebut dengan “nyikut karang”. Kemudian dilaksanakan caru pengerukan karang, adalah ritual persembahan kurban & mohon izin untuk mendirikan rumah hampir sama seperti membangun rumah adat di jawa. Upacara ritual dilakukan peletakan batu pertama yang disebut nasarin, bertujuan untuk meminta kekuatan agar nanti bangunan rumah menjadi kuat dan kokoh serta pekerja atau tukang dilakukan upacara prayascita untuk memohon bimbingan dan keselamatan dalam bekerja. Jika seluruh ritual sudah dijalankan barulah pembangunan dimulai. Rumah adat bali
Masyarakat Bali selalu mengawali dan mengakhiri suatu pembangunan dengan upacara atau ritual. Semua ritual diatas pada intinya bertujuan memberi kharisma pada rumah yang akan didirikan dan untuk menjaga keselarasan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, & manusia dengan lingkungannya.

Bagian-Bagian Rumah Adat Bali Beserta Fungsinya
Didalam rumah adat Bali memiliki bagian-bagian penting dan mempunyai fungsi masing-masing. Berikut ini penjelasannnya:

Sanggah atau Pamerajan merupakan tempat suci bagi keluarga yang tinggal.
Panginjeng Karang adalah tempat untuk memuja yang menjaga pekarangan.
Bale Manten merupakan tempat tidur kepala keluarga, anak gadis dan tempat menyimpan barang-barang berharga. Bale Manten juga sering digunakan bagi pasangan yang baru menikah.
Bale Gede atau Bale Adat adalah sebagai tempat upacara lingkaran hidup.
Bale Dauh berfungsi sebagai tempat kerja, pertemuan dan tempat tidur anak laki-laki.
Paon yaitu berupa dapur yang digunakan sebagai tempat memasak
Lumbung merupakan tempat penyimpanan makanan pokok seperti padi dan hasil bumi lainnya.

Nilai-Nilai Dalam Rumah Adat Bali
Rumah adat Bali memiliki nilai-nilai penting dalam proses pembangunannya, nilai-nilai tersebut berupa aturan-aturan yang disebut dengan istilah “Asta Kosala Kosali” yakni filosofi yang mengatur tatahubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Umumnya, sudut utara-timur adalah tempat yang lebih disucikan, sehingga diletakan ruang-ruang yang lebih dinilai suci, sedangkan sudut barat-selatan merupakan sudut yang lebih rendah derajat kesuciannya dalam tata ruang rumah, yang biasanya merupakan arah masuk ke hunian atau untuk bangunan lain seperti kamar mandi dan lain-lain.

Ditinjau dari sudut pandang ilmu bumi, arsitektur Bali menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia dan keadaan dataran tinggi maupun rendah. Di daerah dataran tinggi pada umumnya bangunannya kecil-kecil dan tertutup, demi menyesuaikan keadaan lingkungannya yang cenderung dingin. Tinggi dinding di buat pendek, untuk menghindari sirkulasi udara yang terlalu sering. Luas dan bentuk pekarangan relatif sempit dan tidak beraturan disesuaikan dengan topografi tempat tinggalnya. Sementara untuk daerah dataran rendah, pekarangannya relatif luas dan datar sehingga bisa dimanfaatkan sebagai temapt berkumpul massa untuk agenda-agenda adat tertentu, yang umumnya berdinding terbuka, di mana masing-masing mempunyai fungsi tersendiri.

Dari segi material, bahan bangungan yang digunakan bergantung pada tingkat kemapanan si pemiliknya. Masyarakat biasa menggunakan popolan (speci yang terbuat dari lumpur tanah liat) untuk dinding bangunan, sedangkan golongan raja dan brahmana menggunakan tumpukan bata-bata. Untuk tempat suci/tempat pemujaan baik milik satu keluarga maupun milik suatu kumpulan kekerabatan, menggunakan bahan sesuai kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Seperti untuk bahan atap menggunakan ijuk bagi yang ekonominya mampu, sedangkan bagi yang ekonominya kurang mampu bisa menggunakan alang-alang atau genteng.

Incoming search terms:

  • rumah adat bali
  • ciri fisik rumah adat bali
  • manfaat rumah adat bali
  • ciri fisik rumah gapura candi bentar
  • gapura bali
  • keunikan rumah adat bali
  • pemanfaatan rumah adat gapura candi bentar
  • ciri fisik rumah adat gapura candi bentar
  • manfaat dan kegunaan rumah adat bali
  • gapura candi bentar
  • makna rumah adat bali
  • keunikan rumah adat gapura candi bentar
  • pengertian rumah adat bali
  • filosofi rumah adat bali
  • fungsi candi bentar
  • penjelasan rumah adat bali
  • fungsi rumah adat gapura candi bentar
  • rumah adat gapura candi bentar
  • pemanfaatan rumah gapura candi bentar
  • candi bentar
  • ciri ciri rumah adat bali
  • rumah gapura candi bentar
  • fungsi rumah gapura candi bentar
  • pemanfaatan rumah adat bali
  • fungsi rumah adat bali
  • rumah adat bali dan maknanya
  • ciri fisik gapura candi bentar
  • pemanfaatan candi bentar
  • pemanfaatan gapura candi bentar
  • keunikan dari rumah adat bali
Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 
Jasa Arsitek Professional dan Hemat Call : 082138863000 - 087738246300Whatsapp